Showing posts with label college. Show all posts
Showing posts with label college. Show all posts

6.2.16

MAGANG BANK INDONESIA (DEPARTEMEN KOMUNIKASI)


Post kali ini spesial aku  buat untuk teman-teman yang mungkin membutuhkan informasi mengenai magang (khususnya bagian humas) di Bank Indonesia Pusat yang berada di Jl M.H Thamrin, Jakarta. Sebelumnya, aku merasa harus memposting tulisan ini dikarenakan terlebih dahulu aku mendapat cukup banyak informasi dan bantuan yang bermula dari Blog Kak Brigitha. Thankyou anyway kak! So here the stories :

PROCESS
Diterima magang di Bank Indonesia tidaklah sulit ; dalam artian tidak ada test khusus dan seleksi bertahap. Sesimple ketika mereka butuh anak magang, ya mereka akan terima asalkan kalian memperhatikan syarat-syarat yang sudah di tentukan Bank Indonesia (disini). Yang harus di garis-bawahi adalah tidak semua departemen selalu membutuhkan anak magang.  So, karena aku ex-magangers (???) Departemen Komunikasi BI, lebih baik sebelumnya kamu langsung kontak twitter official BI (@bank_indonesia) atau menghubungi Call Center BI alias BICARA di 131. Kenapa kesitu? Karena media tsb yang paling fast response menanggapi pertanyaan dari publik. Jangan khawatir, pasti dituntun dengan tepat kok. Ehe. 

Aku pribadi sebenarnya tidak terlalu mulus untuk bisa magang di BI. Kurang lebih 5 bulan sebelumnya aku sudah apply proposal magang disini, tapi ternyata pengumuman keterimanya masih simpang siur bahkan sampai seminggu sebelum hari-H magang. Aku memutuskan langsung menghadap pihak SDM khusus anak magang, alias Ibu Tita. Sebelum aku ke Bu Tita, aku menghadap pihak Departemen Komunikasi terlebih dulu dan menemukan fakta menyakitkan kalau dokumenku entah terselip dimana! Untungnya bawa back-up file jadi langsung sigap dikelarin. Ini part yang huft banget sih,  Jadi, buat kalian yang mau magang disini, usahakan terus interaksi dengan Ibu Tita yang mengurus magang ya. FYI, Ibu Tita ini terkenal sibuk banget, jadi kita sendiri yang harus aktif kalau nggak mau puzing. Dari banyak cerita di blog temen-temen ex-magangers BI, mereka juga suka baru dapet informasi diterima magang seminggu atau bahkan sehari sebelum magang loh. You'd better prepare the worst!


JOB LIST
SO setelah aku si anak magang cupu bau kencur ini diterima magang di Departemen Komunikasi dari 7 Sept 2015 - 15 Nov 2015, hidupku seakan berubah. Literally berubah. Senin sampai Jumat berangkat dari rumah jam set.5 pagi dan sampai rumah lagi jam 8/9 malam. Siklus gila itu nggak bakal aku lupa, apalagi ditambah deru-derai air mata yang sering menetes di Trans Jakarta karena saking capek dan keselnya ngeliat macet. Berbi lelah!!!  Tapi terlepas dari itu semua, pengalaman magang di DKOM ini juga sangat aku syukuri.

Sbg informasi tambahan, ada 7 Divisi di Departemen Komunikasi BI : Divisi Strategi Komunikasi, Divisi Pengendalian dan Penyelarasan Komunikasi, Divisi Komunikasi Online dan Layanan Informasi Publik, Divisi Relasi Media Massa dan Opinion Maker, Divisi Relasi Internal, Divisi Relasi Lembaga Publik, dan Divisi Pemberdayaan Komunitas (CSR). So far aku nyobain semua divisi, kecuali Divisi Relasi Lembaga Publik (DRLP) karena enggak tertarik sama sekali sama politik pemerintahan. Bhay. Ohya, kalian bebas kok milih mau masuk divisi apa, asal nggak bentrok aja sama anak magang yang lain. Dan biasanya didahulukan buat temen-temen yang sudah fokus ambil materi tertentu buat laporan magangnya. 

Berhubung udah dijabarkan divisi-divisinya, kalian pasti tau dong kurang lebih kerjaku apa. Ada beberapa pengalaman baru yang nggak akan aku lupa, misalnya waktu ikut rapat sama Cognito. Aku bisa lihat secara langsung presentasi Cognito ke BI dan proses bargaining ini itu, terlebih denger langsung jumlah rupiah yang ditawarkan sebelum dealing. Gila sih sepanjang jadi mahasiswa kom tugasnya sering sok jadi konsultan PR, tapi sekarang bisa ngeliat sendiri kerja real si konsultan PR itu gimana - dan lucunya sekarang posisinya aku juga ngalamin rasanya  jadi seorang klien. 

Magang punya arti simple yakni kamu akan berkontribusi membantu kerja pegawai kapanpun mereka membutuhkanmu (re: jadi babu lucu). Tapi bukan hanya itu! Supaya magangmu lebih berkesan, nggak ada salahnya kalau kamu nawarin skill-skill yang kamu punya juga. Yakinlah setidaknya itu bisa membuatmu tidak minder diantara para pegawai. LOL. Singkat kata, aku sangat senang bekerja di Divisi Relasi Internal (wahai Ibu Dyah, Mas Josh, Mas Baim apakabar ya?). Disini setidaknya aku bisa menuangkan kegemaranku dalam hal design. Aku mendapat kesempatan re-design ucapan ulangtahun yang rutin diberikan oleh BI untuk seluruh pegawainya. Puji Tuhan semoga jadi dipakai tahun 2016 ya!  



Menjadi anak magang juga berarti kamu harus menghadapi tantangan bagaimana bekerja dengan cepat dan tepat, bahkan untuk sesuatu yang enggak pernah kamu tahu sekalipun. Intinya learning by doing. Jangan malu untuk bilang "saya tidak mengerti" - "tolong bantu saya" - "maaf apakah ini sudah benar? - "maaf apa bisa dijelaskan lagi?" - dsb. Konsep magang di BI ini aku rasa hampir 90% adalah dari proses learning by doing. Salah satunya adalah ketika aku mendapat tugas untuk membuat mapping opinion maker Bank Indonesia dengan mengoperasikan pivot table. Sesumpahan enggak pernah paham sebelumnya! 

Beberapa tugas lain yang aku lakuin kurang lebih :  membuat strategi komunikasi BI terkait kampanye "kewajiban penggunaan rupiah", mencari daftar endorser yang pas untuk BI, membagikan press release saat konferensi pers, ikut dalam workshop media, ikut kegiatan BBM (BI Bareng Media), pendataan kontak media massa di Indonesia, media monitoring, kliping berita harian, analisis statement Bank Indonesia dalam kasus Bank Century, berkontribusi dalam pembuatan majalah internal “FOKUS”, rekap twitter BI, pengarsipan, dan berpartisipasi dalam kegiatan kunjungan BI yang dihadiri oleh siswa maupun mahasiswa. 


EMPLOYEES & FRIENDS
Overall magang di DKOM sangat menyenangkan! Pegawainya ramah-ramah dan murah hati, baik dalam hal ilmu maupun bagi-bagi makanan. LOL. Tapi kantor DKOM itu suka sepi loh, soalnya 'hobi' pegawainya dines keliling provinsi ikut ini itu. Pokoknya acaranya banyak banget deh. Jadi kalau ditanya deket apa enggak sama pegawainya sih masih standar. Ini dia pegawai yang sempet foto bareng aku di hari terakhir magang. Sadly karena itu hari Jumat dan penuh jadwal dines, jadi cuma sedikit pegawai yang di kantor :3



Yup, magang ini aku nggak sendirian in real. Aku ketemu banyak temen baru dari berbagai kampus : Wida (UP), Imam (UP), Hanif (UP), Afif (UNPAD), Riris (LSPR), Anggi (LSPR), Raisa (LSPR), Ivan (ATMA JOG). Angga (UNBRAW), Ami (TANRI ABENK), Dhany (UNJ) dan Nasrul (UNJ). Banyak ya? Hehe. Berhubung aku 2 bulan magangnya, jadi emang cukup banyak ketemu temen-temen barunya. FYI BI nggak ada program pasti perihal magang, jadi suka tiba-tiba aja dateng anak baru ataupun nggak kerasa temen lama kita udah mau selesai magang aja. So far bersyukur banget bisa kenal anak-anak absurd kayak mereka. See you on top guizzze!





FEE?
Upah magang enggak selalu di dapet di setiap perusahaan. Bank Indonesia sendiri hanya memberi uang transport yang berlaku untuk sebulan magang. So, kalau kamu magang 2/3 bulan, kamu tetep hanya dapat jatah uang transport sebulan. Worth enough? Mungkin enggak ya, tapi at least bersyukur masih sedikit dihargai sama BI. Banyak juga temenku yang capek-capek magang di instansi lain tapi enggak digaji sepeserpun. Terlepas dari fee, yang terpenting adalah pengalaman baru dan akan sangat berharga untuk dimasukkan ke CV. 


Kalau ada pertanyaan bisa komen dibawah atau kontak email aku : dignamargareth@gmail.com. Akan sangat senang bila aku bisa membantu teman-teman yang mau magang di Bank Indonesia.  Thankyou for reading anyway xoxo


UPDATED : 
Dikarenakan banyaknya yang email hanya untuk minta contoh "PROPOSAL", maka aku tidak akan membalas email yang isinya seperti itu. Mohon maaf sebelumnya bukan tidak mau membantu akan tetapi prosedural proposal masing-masing orang sepertinya menjadi tanggung jawab pribadi & nama baik kampus jadi aku tidak mau disalahkan kalau sembarangan kasih ajuan proposal - terkait dengan mudahnya copy-paste doang. Disini aku melayani teman-teman yang mau berdiskusi ttg pembuatan proposalnya seperti apa, tapi tidak bersedia 'lagi' memberi proposal secara utuh. 

Dan untuk teman-teman yang membutuhkan pembuatan design CV dan Cover Letter KEKINIAN boleh mengunjunggi Instagram khusus ku di @glowintheart , tentunya harganya sangat murah dong. Lebih mudahnya langsung add di : @fsv7445j (sekalian pesen, sekalian ngobrolin tentang BI juga bisa). Berikut beberapa contohnya : 













1.10.15

Komunikasi Gender : Dating Naked [Reality Show]




KOMUNIKASI GENDER
ANALISIS KASUS FEMINISME MEDIA TV
REALITY SHOW DATING NAKED

Kasus
Dating Naked adalah sebuah reality show serial Amerika yang ditayangkan di stasiun TV VH1 yang merupakan ajang pencarian pasangan/jodoh dengan tidak menggunakan busana sehelaipun dalam melakukan aktivitas bersama. Aktivitas yang dilakukan adalah aktivitas normal yang lazim dilakukan, seperti berenang, berselancar, berkuda, dan lainnya. Sudah dua negara mengikuti konsep acara Dating Naked, yakni Canada dan Australia. Meskipun tidak memakai busana, akan tetapi acara ini tetap melakukan censoring pada alat kelamin baik laki-laki maupun perempuan. Setiap peserta diberi kesempatan untuk berkencan dengan tiga orang dalam durasi 1 minggu, lalu di akhir episode mereka harus memilih salah satu untuk menjadi kekasihnya.  Acara Dating Naked yang dibawakan oleh Amy Paffrath ini memulai debut season pertama pada 17 Juli 2014 yang stutingnya dilaksanakan di Panama. Kurang lebih sebanyak 11 episode telah berlangsung di season pertama ini.

Pada dasarnya ajang Dating Naked memiliki background ingin membantu orang-orang single yang kesulitan mendapatkan pasangan baru karena sudah trauma patah hati atau sudah berumur. Dating Naked menganggap bahwa selama ini seseorang melihat pasangan dari materi yang dikenakan, sehingga cinta yang datang bukan dari sebuah kejujuran atau ketulusan. Lebih lagi dalam situsnya dikatakan bahwa saat ini sulit untuk benar-benar terhubung dengan seseorang. Online dates, kencan buta, dan semua aplikasi kencan konyol membuat sulit  untuk melihat siapa orang-orang yang tulus mencintai . Executive Vice Presiden VH1, Susan Levison, berkata “Acara ini bukan tentang bagaimana tampil tanpa busana, tetapi bagaimana kita menjadi jujur dengan orang lain.” Susan juga  mengatakan bahwa ketika kita tampil tanpa busana, maka kita sesungguhnya menampilkan diri yang sebenarnya, sehingga tidak ada yang bisa disembunyikan. Kejujuran yang seperti inilah yang diyakini akan menghasilkan perasaan cinta yang tulus dari pasangan. 

Ajang perjodohan Dating Naked ini ternyata berhasil mempertemukan pasangan asal Amerika Serikat hingga ke pelaminan. Pasangan bernama Ashley Fonda dan Alika Medeiros itu menikah setelah melakukan syuting kencan pertama pada Mei 2014. Akan tetapi acara ini tidak sepenuhnya mendapat respon positif. Pada bulan Agustus 2014, Jessie Nizewitz, kontestan pada episode ketiga dari Season 1 mengajukan gugatan terhadap Viacom, serta Firelight Entertainment sebesar $ 10 juta, setelah mereka menyiarkan gambar uncensored dari selangkangannya. Disini terlihat bahwa meskipun siaran ini dikatakan aman dari sensor, tapi pada kenyataannya tidak seperti itu. 


Teori
Ada dua teori feminis yang saya gunakan untuk membahas pro-kontra kasus reality show Dating Naked. Teori pertama adalah teori feminis The Romantic Love - Karla Mantilla dan teori Anti-Pornography Feminism 

The Romantic Love - Karla Mantilla (2004)
Karla Mantilla (2004, hal. 31) menunjukkan bahwa banyak aspek kepribadian perempuan yang meliputi selera, karakteristik, opini, ide, nilai-nilai, dan, terutama perasaan perempuan terbentuk dari konteks mendalam yang dipengaruhi oleh hubungan kekuasaan patriarki. Dalam hal ini laki-laki memainkan peran untuk membatasi apa yang perempuan lakukan. Teori ini mengungkapkan keinginan perempuan untuk menantang konstruksi sosial normatif yang menganggap  perempuan sebagai "pasif" dalam menentukan keputusan, selera, karakteristik, opini, ide, nilai-nilai, dan perasaan perempuan tersebut selama ini. Dalam teori ini perempuan tidak setuju pada konsep dongeng menunggu "Prince Charming" datang dengan sendirinya, melainkan bergerak mandiri bereksplorasi walaupun mereka harus  mengalami pelanggaran, memberikan uang mereka, dan mengorbankan harga diri demi laki-laki tersebut. 

Anti-Pornography Feminism 
Anti-Pornography Feminism merupakan feminis radikal. Beberapa tokoh pendukung teori ini adalah Andrea Dworkin dan Catharine MacKinnon. Mereka berpendapat pornografi berbahaya bagi perempuan, dan merupakan kausalitas kuat atau fasilitasi kekerasan terhadap perempuan. Feminis anti-pornografi, terutama Catherine MacKinnon, mengatakan perempuan mengeluarkan ‘biaya’ fisik, psikologis, dan / atau  paksaan ekonomi di dalam produksi pornografi. Dworkin dan MacKinnon (dalam Duggan dan Hunter,2006: 32) berargumen bahwa pornografi adalah akar dari eksploitasi dan diskriminasi yang pernah ada terhadap perempuan. Ini yang dikhawatirkan MacKinnon sebagai pembatasan ekspresi perempuan, jika objektivikasi secara seksual masih direpresentasikan dalam media. 

Dworkin juga berpendapat bahwa pornografi terlibat dalam kekerasan terhadap perempuan, baik dalam produksi (melalui penyalahgunaan perempuan digunakan untuk membintangi di dalamnya), dan konsekuensi sosial dari konsumsi dengan mendorong orang untuk melakukan dominasi erotisme, penghinaan, dan penyalahgunaan perempuan. MacKinnon dan Dworkin mendefinisikan pornografi sebagai grafik subordinasi seksual eksplisit perempuan melalui gambar atau kata-kata..

Feminis anti-pornografi memegang pandangan bahwa pornografi berkontribusi untuk seksisme. Beberapa tokoh percaya film pornografi cenderung menunjukkan wanita sebagai sangat pasif, atau bahwa tindakan yang dilakukan pada wanita biasanya kasar dan semata-mata untuk kesenangan pasangan seks mereka. 


ANALISIS
Dikarenakan teori yang digunakan tidak saling terkait, maka analisis pun saya pisah menjadi dua sesuai dengan teori yang telah dijelaskan sebelumnya. 

The Romantic Love - Karla Mantilla (2004)
Pemilihan teori ini dikarenakan adanya kesesuaian dengan kasus dalam acara reality show Dating Naked. Seperti yang sudah dijelaskan, Karla Mantilla mengatakan bahwa ada keinginan perempuan untuk  menantang konstruksi sosial normatif yang menganggap  perempuan sebagai "pasif" dalam menentukan keputusan, selera, karakteristik, opini, ide, nilai-nilai, dan perasaan perempuan. Perempuan yang ikut dalam acara Dating Naked tentu adalah perempuan yang menentang konsep ‘pasif’ karena mereka tidak duduk diam apabila  ada laki-laki yang membatasi dirinya untuk menentukan pilihan. Dating Naked memberi kesempatan bagi perempuan untuk menentukan mana pria yang menjadi pilihannya, bukan hanya berdasar keinginan penentuan laki-laki. Dalam beberapa episode, perempuan disini juga bebas dalam menyuarakan opini, ide maupun nilai-nilai yang mereka anut. Tidak ada batasan bagi mereka untuk tidak mengungkapkan apa yang sesuai dengan perasaannya. Mereka bebas menangis bila merasa sakit hati,  maupun bebas berkata kasar bila laki-laki tersebut berlaku tidak baik kepadanya. 

Karla Mantilla dalam pendapatnya juga mengatakan bahwa perempuan tidak setuju pada konsep dongeng menunggu "Prince Charming" datang dengan sendirinya. Konsep Karla ini sesuai dengan acara Dating Naked. Perempuan yang ikut acara Dating Naked menggambarkan sikap menentang konsep menunggu datangnya seorang "Prince Charming", melainkan justru mencari hubungan yang eksploratif, yakni berkali-kali 'mencoba' berhubungan dengan laki-laki dalam satu periode waktu yang singkat. Dalam satu minggu mereka harus berkenalan dengan tiga pria ‘asing’ dan melakukan aktifitas bersama dengan kondisi telanjang. 

Kondisi seperti ini juga sangat relevan dengan penyataan Karla Mantilla bahwa perempuan akan rela melakukan pelanggaran, memberikan uang/waktu mereka, maupun  harga diri mereka demi laki-laki yang dicintai. Perempuan dalam Dating Naked tentu digambarkan melakukan pelanggaran. Pelanggaran yang dimaksud adalah melanggar konstruksi sosial bahwa perempuan tidak selayaknya aktif ‘menjajakan’ dirinya untuk mendapat perhatian dari laki-laki. Hanya laki-laki lah yang boleh menyatakan cinta terlebih dahulu dan bergerak untuk mendapatkan perempuan yang diinginkan. Tugas perempuan hanyalah menunggu. Namun hal itu tidak sesuai dalam acara Dating Naked. Perempuan bebas mengekspresikan perasaannya maupun menunjukkan bahwa mereka tertarik dengan laki-laki tersebut. Ekspresi yang ditunjukkan seperti mencium laki-laki terlebih dulu maupun menggoda dengan segala cara. 

Perempuan dalam Dating Naked juga telah mengorbankan waktu mereka selama semingu. Waktu yang dikorbankan membebani mereka pula  untuk menentukan pilihan. Karena dalam seminggu setelah berkenalan dengan tiga pria, perempuan tersebut harus mampu menentukan siapa yang menjadi kekasihnya. Selain mengorbankankan waktu, perempuan dalam Dating Naked juga rela mengorbankan harga diri mereka. Hal ini dibuktikan karena nama dan wajah yang terpampang adalah nama dan wajah asli mereka tanpa adanya censoring. Terkait dengan konstruksi sosial, maka akan sangat mungkin banyak orang  mengenali dan menilai perempuan yang ikut dalam acara Dating Naked adalah perempuan ‘nakal’ yang tidak tahu moral dan akal budi. Konstruksi sosial seperti inilah yang berani mereka hadapi - sehingga bisa dikatakan mereka telah mengorbankan harga diri mereka di depan publik dengan segala kemungkinan omongan buruk tentangnya. 

Anti-Pornography Feminism 

Dating Naked mengandung bentuk pornoaksi karena ada penonjolan bagian-bagian tubuh yang  mempertontonkan payudara dan alat vital yang disengaja maupun tidak disengaja. Meskipun ada cencoring, namun hal itu tidak dilakukan dengan maksimal, karena masih terlihat bentuk lekukan tubuh yang jelas dan bisa direpresentasikan. 

Keberadaan perempuan dalam pornografi tidak dapat dilepaskan dari pembentukan sebuah sistem untuk mengembangkan pornografi dengan cara mengeksploitasi tubuh perempuan. Ketelanjangan yang minim sensor dalam Dating Naked ini mengindikasikan bahwa tubuh perempuan bahwasanya telah dieksploitasi dengan “alibi” kejujuran - seperti yang disampaikan Vice President +VH1. Tidak bisa dikatakan bahwa “ketelanjangan” merepresentasikan kejujuran seseorang, karena pada dasarnya meskipun tubuh telah 100% terbuka, namun pikiran dan perasaan masih bisa dimanipulasi. Jadi, ‘kejujuran’ tubuh tidak bisa mewakili bentuk dari adanya kejujuran rasa cinta yang tulus. Alih-alih justru dengan keterbukaan tubuh yang frontal seperti itu, cinta yang tulus tertutup oleh nafsu birahi. Bisa saja alasan mencintai lawan jenis tersebut malah dikarenakan bentuk alat kelamin yang ‘memuaskan’ mereka. 

Saya menyimpulkan bahwa ‘kejujuran’ dalam bentuk ketelanjangan di acara  Dating Naked merupakan bentuk dari pornografi, sehingga saya menggunakan teori Anti-Pornography Feminism sebagai respon saya dalam menanggapi kasus ini. Dalam teori Anti-Pornography Feminism, Andrea Dworkin dan Catharine MacKinnon berpendapat bahwa pornografi berbahaya karena merupakan fasilitasi kekerasan terhadap perempuan. Dworkin dan MacKinnon (dalam Duggan dan Hunter,2006: 32) juga berargumen bahwa pornografi adalah akar dari eksploitasi dan diskriminasi yang pernah ada terhadap perempuan. Dari argumen tokoh tersebut maka semakin jelaslah bahwa acara Dating Naked yang mengandung pornografi tersebut telah mengeksploitas perempuan. 

Feminis anti-pornografi, Catherine MacKinnon, juga mengatakan perempuan mengeluarkan ‘biaya’ fisik, psikologis, dan / atau paksaan ekonomi di dalam produksi pornografi. Hal ini relevan dengan apa yang dilakukan peserta perempuan dalam acara Dating Naked. Mereka merelakan dirinya secara fisik dipertontonkan oleh laki-laki asing dan juga publik. Mereka juga rela melawan harga dirinya (psikologis) demi untuk mengikuti acara Dating Naked. Terlihat bahwa ada bentuk opresi laten bagi perempuan disini. 

Setidaknya muncul pandangan kritis feminisme tentang keterlibatan perempuan dalam pornografi, yakni dari kelompok libertarian seksual (pro-pornografi) dan libertarian radikal(anti-pornografi). Kelompok libertarian seksual mempertahankan kebebasan berekspresi dan berpendapat sebagai hak indvidu yang tak dapat diganggu gugat. Kelompok ini mengkritik feminisme, mereka menganggap sikap anti-pornografi itu sama artinya dengan menindas seksualitas dan hak perempuan untuk mengeksplorasi seksualitasnya sendiri. Mereka juga berpendapat para anti-pornografii telah membela kepentingan laki-laki karena selalu membiarkan laki-laki mengontrol tubuh perempuan (Syarifah, 2006:160). 

Para pro-pornografi tentu bisa mengatakan bahwa ajang reality show Dating Naked merupakan suatu bentuk kebebasan berekspresi dan hak individu. Adalah sah perempuan mengeksplorasi seksualitas dengan cara apapun itu. Namun harus dipahami bahwa tidak semua ekspresi seksual layak dipertontonkan kepada publik di media massa. Hal ini terkait tentang adanya norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat. Perempuan dalam Dating Naked tidak bisa dibela sebagai bentuk kebebasan ekspresi seksual, namun harus dilihat bahwa ketelanjangan di hadapan publik merupakan bentuk pelecehan seksual. Thelma Robin (dalam Syarifah, 2006:164) melihat bahwa sebuah ekspresi seksual mudah tergelincir masuk ke dalam pelecehan seksual. 
DAFTAR PUSTAKA

Buku
Syarifah. 2006. Kebertubuhan Perempuan dalam Pornografi. Jakarta : Yayasan Kota Kita

Internet
- VH1-Dating Naked. http://www.vh1.com/shows/dating-naked/ diakses pada 6 Juli 2015
Wikipedia. Dating Nakedhttps://en.wikipedia.org/wiki/Dating_Naked#Worldwide_release/ diakses pada 7 Juli 2015
Wikipedia. Feminist View on Sexualityhttps://en.wikipedia.org/wiki/Feminist_views_on_sexuality#cite_note-24 diakses pada 7 Juli 2015
Wolipop. Pasangan Ini Berjodoh dan Menikah Pasca Ikut Acara Kencan Tanpa Busana.http://wolipop.detik.com/read/2014/08/29/100913/2675827/854/pasangan-ini-berjodoh-dan-menikah-pasca-ikut-acara-kencan-tanpa-busana/ diakses pada 7 Juli 2015


Fyi, untuk kepentingan posting blog saya memangkas beberapa paragraf agar terlihat ringkas walaupun ini tetep kepanjangan yha... lulz. Terbuka untuk kritik dan saran karena mahasiswa tidak luput dari dosa. 

27.8.12

LDR, loh

LDR . Long Distance Relationship
150 miles, Semarang - Surabaya


Kedengarannya mungkin sepele. Yaelah deket gitu kan ya. Iye, deket kalo diliat dari peta. Sedangkan Jatiwaringin-Nasio aja menurut gue jauh. Hehe. Iya, lebay, iye.

Nggak pernah ngejalanin hubungan kayak gini sebelumnya. Jadi, perasaan campur aduk nampaknya lumrah lah ya. Bahkan kalau ditanya, "Emang apa sih yang ditakutin?", gue seakan nggak bisa jawab. Nggak dikit  juga yang komentar pas tau gue bakal LDR'an. Sebenarnya sih nggak mau ambil pusing, apalagi dilebay-lebayin, tapi kok ada rasa takut juga yah... Nggak tau itu disebabkan karena presepsi orang yang membekas di benak gue atau ya...ya gatau juga deh. Huhu.

"Kalau lo kangen sama dia, lo bakal ngapain?"
"Ya...telp lah... sms lah. Susah amat.."
"Tapi masalahnya itu kangennya cuma bisa diobatin dengan ketemu. Hayo?"
".............."
"Ya gue cuma mau kasihtau aja sih sebagai yang pernah LDR Jakarta-Semarang, kangen yang nggak terbalaskan itu nggak enak. Baik cowok atau ceweknya pasti bakal cari 'kenyamanan' lain. Misal, elo kangen tapi nggak bisa ketemu cowok lo. Lo sedih gimana gitu kan. Terus lo ngapain? Pasti butuh temen dong buat ngedengerin cerita lo? Nah, itu! Hati-hati aja kalau ada 'orang lain' yang sebenarnya bisa lebih ada di saat lo butuh...."
"................"

Prangggggg. Agak mikir sih soalnya gue emang gitu. Dikit-dikit ada yang nggak enak pasti larinya cerita ke temen. Even sebenarnya kalau cerita sih ke cewek, cuma nggak menutup kemungkinan dong gue cerita ke cowok. Bukan maksudnya centil dan sebagainya, tapi ada  momen dimana lo butuh sebuah presepsi dari cowok. Gue terbiasa dengan melihat dari berbagai sudut pandang. Jadi, kalau nggak suka.... Seterah. Yaudah. Hehe. Dan pastinya juga dengan harapan kalau gue nggak akan nemuin yang  menginginkan  lebih dari sekedar teman bertukar pikiran. I mean, bukan bertukar perasaan.
"6 bulan pertama biasanya masih kaulah bulan kaulah bintang. 6 bulan berikutnya cari yang lebih cemerlang."

Hahahaha. Awalnya sih bisa ketawa. Tapi, abis itu harus jedotin pala. Iyaloh....ini sih yang klimaks parah. Who knows sih? Lo dimana, gue dimana. Temen lo siapa, temen gue siapa. Pasti ada lah rasa khawatir.

So, kalau udah gini gimana dong????

Banyak proses yang gue pelajarin dan emang nggak boleh dilebay-lebayin. Maksudnya, yaudahlah ya udah begini jalannya. Mau gimana? Cuma tinggal pilih, pertahanin atau good bye. Untungnya sehati untuk pertahanin. Bukan sekedar nyepik ya. Banyak cara untuk pertahanin hubungan, it depends on how you flow it. Komunikasi itu penting, ya satu tingkat dibawah setelah percaya, menurut gue. Ya, kalau dilihat-lihat sih kita sama-sama reachable kok.  Toh kita sekarang juga hidup di dunia yang teknologinya cuanggih tenan. Ada hp, fb, twitter, skype, dll. Tapi emang kadang tergantung batre &signal yang kadang amblas sih. Huh.

Line yang sebenarnya tetep harus diingat adalah kerealistisan. Ada banyak kerelealistisan yang harus diperhatikan masak-masak. Dia punya temen. Dia punya keluarga. Terlebih, dia punya cita-cita, angan-angan, harapan, impian, atau apalah namanya.  Gue kadang suka sebel sama yang pacaran tapi nggak merhatiin 3 poin penting selain kehadiran pasangan di dalam kehidupan. Istilah kasarnya, jangan lebay deh. Baru jadi pacar aja meratu banget. Selain itu, jangan pernah lupa bawa hubungan lo ke Tuhan. Camkan! Ujung-ujungnya kan Dia yang nentuin boleh atau enggaknya, bahagia atau deritanya.

Nggak tau mau dibawa kemana postingan ini. Ngalir gitu aja. Dibilang masih takut sih juga nggak terlalu. I trust You, so does he. Kalau emang suatu saat LDR ini mengganggu, balik ke option mau pertahanin atau good bye. Semua pasti aja jalan lah ya. Jalan ke Surabaya dari Semarang juga ada. Begitu pula sebaliknya. Hehe. Don't worry too much deh.

Harapan gue sih semua bisa berjalan sesuai dengan apa yang boleh terjadi.
Apapun itu.
Meski di jarak yang jauh sekalipun.



Love u, Ndo.